Tukang Becak Berhati Mulia
![]() |
Image source : Google Search |
Bai Fang Li
tinggal di sebuah gubuk tua sederhana di daerah kumuh di kota Tianjin. Di dalam
gubuk itu hanya ada satu ruangan dimana ia harus menyewa dan berbagi tempat
bersama beberapa orang lainnya. Praktis tidak ada banyak perabotan di dalam
gubuknya, kecuali sepotong karpet tua yang dipakainya untuk tidur setelah
seharian bekerja menarik becak. Di ruangan kamar ini juga, ia hanya memiliki
sebuah kotak kardus tua tempat ia menyimpan selimut tua miliknya yang sudah
lusuh dan penuh jahitan. Ada juga piring dan cangkir kaleng, yang ditemukannya
di tumpukan sampah di sekitar gubuk, yang dipakainya untuk makan dan minum. Di
sudut gubuk, ada sebuah lampu minyak untuk memberikan penerangan di malam hari.
Bai Fang Li
tidak memiliki keluarga atau kerabat di kota tempat tinggalnya. Orang-orang
hanya tahu bahwa ia datang perantauan dari kota lain. Namun, ia tidak pernah
merasa kesepian karena selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menyukainya.
Mereka menyukainya karena sikap positif dan kemurahan hatinya. Ia suka membantu
orang yang membutuhkan bantuan dan melakukannya dengan sukacita.
![]() |
Images from Google Search |
Ia tidak menentukan biaya yang harus dibayar oleh pelanggannya, tapi dia bergantung
pada kemurahan hati para pelanggan untuk membayar jasanya. Seberapapun yang didapatnya dari
pekerjaannya selalu diterima dengan senyum ikhlas dan sukacita. Semua pelanggan menyukai Bai Fang Li karena ia ramah dan murah senyum. Karena
hati yang baik, orang-orang lebih memilih untuk menggunakan jasanya lebih dari
yang lain. Banyak dari
mereka yang bersedia untuk membayar lebih daripada tarif biasanya.
Mungkin juga ini karena mereka melihat betapa keras ia, dengan tubuh kecilnya,
harus mengayuh becak dengan susah payah sampai napasnya terasa berat.
Sebuah kejadian
tak terduga yang mengubah cara hidupnya
Dengan
penghasilannya sebagai tukang becak yang meskipun tidak seberapa, seharusnya ia
mampu membeli makanan dan pakaian yang lebih baik. Namun, ia malah
menyumbangkan sebagian besar penghasilannya untuk sebuah panti asuhan di
Tianjin yang menangani lebih dari 300 anak yatim piatu. Juga
untuk sekolah yang dikelola oleh panti asuhan tersebut .
Pada suatu
hari di tahun 1986 di usia ke 74 tahun, Bai Fang Li sedang beristirahat sejenak
setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia melihat di jalan, ada seorang anak
laki-laki kurus berumur kira-kira enam tahun sedang menawarkan bantuan kepada
seorang wanita untuk membawakan belanjaannya. Ia melihat anak kecil ini membawa
tas belanjaan yang berat dengan susah payah, tapi juga terlihat bersemangat
untuk melakukan pekerjaannya dengan baik. Ada senyum lebar terlukis di wajah
anak itu ketika telah berhasil menyelesaikan tugasnya dan menerima uang sebagai
imbalan atas jasanya. Lalu anak ini mendongak ke langit menggumamkan
sesuatu seolah-olah ia sedang berdoa dan mengucap syukur atas berkat yang baru
saja diterimanya. Bai menyaksikan anak itu membantu beberapa orang yang sedang
berbelanja di pasar, dan setiap kali menerima pembayaran atas jasanya, ia selalu
mendongak ke langit dan menggumamkan sesuatu.
Kemudian,
Bai melihat anak itu pergi ke tumpukan sampah dan menggali seolah mencari
sesuatu. Ketika behasil menemukan sepotong roti kotor, anak itu terlihat begitu
senang. Ia membersihkan roti itu sebaik-baiknya, lalu memakannya seolah-olah
itu adalah sepotong roti yang datang dari sorga. Hati Bai sangat tersentuh
dengan apa yang dilihatnya. Dia mendekati anak itu dan menawarkan untuk berbagi
makan siang dengannya. Bai bertanya mengapa anak itu tidak membeli makan siang
yang layak dengan uang yang diperoleh tadi. Anak itu berkata, "Saya akan
menggunakan uang itu untuk membeli makanan untuk adik-adik saya." Bai
bertanya, "Di mana orang tuamu? "
Anak itu menjawab, "Orang tuaku sehari-hari bekerja sebagai pemulung di
tempat pembuangan sampah. Namun, semenjak satu bulan yang lalu, mereka
menghilang dan aku belum pernah melihat mereka lagi. Jadi, aku harus bekerja
untuk menghidupi diri sendiri dan juga kedua adikku.."
Bai Fang Li
meminta anak itu untuk membawanya menemui saudara-saudara perempuannya. Bai
menangis ketika melihat kedua gadis itu, berumur 5 dan 4 tahun. Gadis-gadis itu
begitu kotor dan kurus, dan pakaian mereka sangat lusuh dan kotor. Para
tetangga tidak peduli dengan kondisi ketiga anak karena mereka juga sedang
berjuang untuk mengatasi masalah kehidupan mereka sendiri.
Bai Fang Li
membawa ketiga anak itu ke sebuah panti asuhan di Tianjin. Dan mengatakan
kepada pengasuh panti asuhan itu bahwa ia akan memberikan uang yang didapatkannya
dari bekerja ke panti asuhan untuk membantu anak-anak di sana mendapatkan
makanan, perawatan dan pendidikan yang layak.
Sejak itu
Bai Fang Li memutuskan untuk bekerja lebih keras dan dengan tekad yang lebih
dalam, mengayuh becak untuk mendapatkan uang guna membantu anak-anak di panti
asuhan. Dia mulai bekerja lebih awal dan pulang terlambat untuk mendapatkan
uang ekstra. Dari semua pendapatannya setiap hari, ia menyisihkan sedikit untuk
membayar sewa gubuk kecilnya. Kadang-kadang untuk membeli sedikit makanan. Selebihnya
pendapatannya disumbangkan semua ke panti asuhan untuk membantu mereka memberi
makan dan merawat anak-anak.
Dia sangat
senang melakukan semua hal ini meskipun dengan segala keterbatasannya. Dia
justru merasa bahwa adalah sebuah kemewahan bahwa ia masih punya tempat
tinggal, makanan untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, meskipun pakaian itu
ia dapat dengan memulung dari tempat pembuangan sampah. Dia selalu bersyukur
atas apa yang dimilikinya.
Bai Fang Li
tidak pernah libur, ia bekerja sebagai tukang becak 365 hari setahun, tanpa
mempedulikan cuaca, ia tetap bekerja meskipun hawa dingin di saat turun salju
atau ketika matahari bersinar sangat terik dan panas. Ketika ditanya mengapa ia
bersedia mengorbankan begitu banyak, dia selalu berkata, "Saya selalu
merasa menyesal bahwa saya bodoh dan tidak berpendidikan, tidak masalah kalau
saya menderita, asalkan anak-anak itu memiliki sesuatu untuk dimakan dan dapat
memiliki pendidikan yang layak untuk masa depannya nanti. Saya merasa bahagia dengan melakukan semua hal ini. "
Kemiskinan
bukanlah halangan menjadikan ( hati ) kita kaya.
< Memberi
tanpa mengharapkan apapun >
![]() |
Images from Google Search |
Ketika usianya
mencapai 90 tahun, ia membawa seluruh sisa tabungannya sebanyak RMB500 (sekitar
Rp 750.000) ke sebuah sekolah panti asuhan bernama Yao Hua. Tidak banyak, tapi
itu adalah seluruh uang yang dimilikinya.
Bai Fang Li
berkata dengan sedih, "Saya sekarang sudah terlalu tua dan lemah, saya
tidak kuat lagi mengayuh becak, dan tidak dapat melanjutkan memberi sumbangan.
Ini mungkin adalah sumbangan terakhir saya" Semua guru dan siswa di
sekolah itu tersentuh dan menangis mendengarnya.
![]() |
Images from Google Search |
Melalui tulisan ini, Bai Fang Li sudah terukir di hati banyak orang. Menginspirasi untuk berbuat sesuatu bagi sesama “ Apa yang bisa AKU lakukan, inilah bagianKU “. Selebihnya adalah kehendak Allah Yang Maha Khalik Sang Maha Pemberi yang akan melanjutkan. Tugas kita adalah melakukan bagian kita.
Selamat melayani Tuhan dan sesama
dengan apa yang bisa kita berikan. Sekecil apapun itu pasti berguna bagi sesama
kita. Tuhan memberkati kita semua.
sumber http://pejuangmimpi7.blogspot.co.id/2012/11/bai-fang-li-kisah-pengayuh-becak.html
0 komentar: